PERLAWANAN
TERHADAP KOLONIALISME SEBELUM LAHIRNYA KESADARAN NASIONAL
DISUSUN OLEH :
AHMAD ROFIQUL A’LA
Kelas :..............
Pelajaran : Sejarah indonesia
nama sekolah
TAHUN PELAJARAN
2013/2014
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT.
Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah
SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun
mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas
Mata Pelajaran sejarah indonesia.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan orang tua,
sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Makalah
ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang materi/pelajaran sejarah
indonesia.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswi SMK NEGERI PALANG. Untuk itu,
kepada GURU Pembimbing saya meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah
saya di masa yang akan datang dan mengharapkan
kritik dan saran dari para pembaca
DAFTAR ISI
Halaman sampul.......................................................................................................i
Kata pengantar..........................................................................................................ii
Daftar isi...................................................................................................................iii
Bab I Pendahuluan
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah...............................................................................................1
1.3 Tujuan.................................................................................................................1
1.4 Manfaat...............................................................................................................1
Bab II Kebijakan pemerintah kolonial di Indonesia
A.Kebijakan pemerintah kolonial
portugis..................................................................2
B. Kebijakan VOC dan pengaruhnya ……………………………………………… 3
C. Kebijakan pemerintah kerajaan belanda dan pengaruhnya………………………………………….. 5
BAB III Perlawanan kolonialisme terhadap Belanda
B. Kebijakan VOC dan pengaruhnya ……………………………………………… 3
C. Kebijakan pemerintah kerajaan belanda dan pengaruhnya………………………………………….. 5
BAB III Perlawanan kolonialisme terhadap Belanda
A.perlawanan rakyat
Maluku.....................................................................9
B. Serangan kerajaan Demak portugis di Malaka……………………………………………………. 9
C. Serangan kerajaan Aceh terhadap portugis……………………………………………… 10
BAB IV Pengaruh terhadap politik,sosial dan budaya di indonesia
A. Bidang Ekonomi …………………………..................................11
B. Serangan kerajaan Demak portugis di Malaka……………………………………………………. 9
C. Serangan kerajaan Aceh terhadap portugis……………………………………………… 10
BAB IV Pengaruh terhadap politik,sosial dan budaya di indonesia
A. Bidang Ekonomi …………………………..................................11
B. Bidang
Sosial....................................................................................11
C. Bidang
Politik....................................................................................11
BAB V Daftar pustaka...................................................................................12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
merupakan suatu kegiatan yang sangat penting
dalam mengetahui berbagai hal. Dalam hal ini kami akan melakukan observasi
tentang pencemaran air sungai sebagai salah satu tugas yang diberikan oleh guru
mata pelajaran geografi dan penglihatan kami mengenai pencemaran air sungai
yang makin tercemar
Air yang kita gunakan seharusnya berstandar 3B, tidak berwarna, berbau dan
beracun. Tetapi, banyak kami lihat air yang berwarna keruh dan berbau. Dan
sering kali bercampur dengan benda-benda sampah seperti, plastik,sampah
organik,kotoran manusia,botol-botol dan sebagainya. Keadaan seperti ini dapat
menyebabkan dampak negatif bagi masyarat, dan dari situlah kami sebagai murid
dan juga sebagai komponen masyarakat, merasa tertarik untuk meneliti jauh
mengenai seberapa tinggi tingkat pencemaran yang telah terjadi pada air sungai
sekitar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar
belakang permasalahan diatas maka, dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Ø Apa faktor-faktor yang menyebabkan
adanya kolonialisme?
Ø Apa dampak yang ditimbulkan?
Ø Bagaimana cara kita untuk
melakukan perlawanan terhadap kolonialisme?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan
permasalahan diatas, maka tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
Ø Untuk mengetahui faktor-faktor yang
menyebabkan adanya kolonialisme
Ø Untuk mengetahui dampak yang
ditimbulkan kolonialisme
Ø Untuk mengetahui kita untuk
melakukan perlawanan terhadap kolonialisme
1.4 Manfaat
Ø Mengetahui
penyebab adanya kolonialisme
Ø Mengetahui
seberapa kolonialisme akan bertahan
Ø Dapat menghimbau masyarakat tentang kolonialisme
BAB II
KEBIJAKAN PEMERINTAH KOLONIAL DAN DI INDONESIA
A. KEBIJAKAN
PEMERINTAH KOLONIAL PORTUGIS
Pada periode tahun 1450 –1650 para sejarawan sering
menyebut sebagai ‘Abad Penemuan’ (The Age of Discovery) dan ‘Abad
Ekspansi’ ( The Age Expansion ). Hasrat untuk menduduki daerah –daerah
lain sebagai koloni dan perluasan wilayah dari imperium atas wilayah yang lain,
mulai diwujudkan. Pada awalnya dipelopori oleh Portugis, kemudian disusul oleh
Spanyol, Belanda dan Inggris. Kehadiran Portugis, Spanyol, Inggris dan terutama
Belanda dengan segala kebijakan di wilayah koloninya, memiliki dampak yang
sangat berarti dalam sejarah kepulauan Indonesia sampai abad ke –20. Namun
tingkat pengaruhnya berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain dan dari
suatu masa ke masa yang lain, tergantung pada jauh dekatnya hubungan dengan
kepentingan kolonial dan kemampuan masing-masing masyarakat merespon
eksploitasi kolonial atau kesempatan yang muncul.
Sejak sukses pengambilalihan kekuasaan oleh Portugis
terhadap Malaka pada tahun 1511, orang-orang Portugis terbuka mengadakan
perdagangan langsung dengan Indonesia, khususnya daerah penghasil rempah-rempah
seperti Ternate, Banda, Seram, Ambon dan Timor. Lebih-lebih setelah Portugis
mengembangkan ekspansinya menanamkan kekuasaannya di Indonesia, terutama di
Maluku.
Hal ini berlangsung cukup lama, sekitar tahun 1512 sampai
1641 (Portugis meninggalkan Maluku dan menyerahkan Malaka pada VOC). Kebijakan
–kebijakan yang dipraktekkan selama itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan
manusia Indonesia waktu itu.
Kebijakan pemerintah
Kolonial Portugis antara lain :
- Sistem monopoli perdagangan cengkeh dan pala di Ternate.
- Berusaha menanamkan kekuasaan di daerah Maluku.
- Menyebarkan agama Katholik di daerah-daerah yang dikuasai .
- Mengembangkan bahasa dan seni musik keroncong Portugis.
Pengaruh
dari kebijakan ini ternyata tertanam pada rakyat Indonesia khususnya rakyat
Maluku , ada yang bersifat negatif dan ada yang positif. Pengaruh yang paling besar dan paling
langgeng adalah :
- Terganggu dan kacaunya jaringan perdagangan .
- Banyaknya orang-orang beragama Katholik di daerah pendudukan Portugis
Pengaruh
lain dari kebijakan kolonial Portugis yaitu
:
- Rakyat menjadi miskin dan menderita.
- Tumbuh benih rasa benci terkadap kekejaman Portugis.
- Munculnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Maluku untuk menentang Portugis.
- Bahasa Portugis turut memperkaya perbendaharaan kata/ kosa kata dan nama keluarga seperti da Costa, Dias, de Fretes, Mendosa, Gonzalves, da Silva dan lain-lain.
- Seni musik keroncong yang terkenal di Indonesia sebagai peninggalan Portugis adalah keroncong Morisco.
- Banyak peninggalan arsitek bangunan yang bercorak Portugis dan sejata api/ meriam di daerah pendudukan.
Nama Maluku adalah sebuah nama yang
berasal dari istilah yang diberikan para pedagang Arab untuk daerah tersebut, Jazirat al Muluk, ‘negeri para
raja’
Kekuasaan Spanyol
yang dipimpin oleh kapten Sebastian
del Cano pada tahun 1521.yang sempat menjalin hubungan dengan Tidore tidak
memiliki pengaruh yang berarti. Mengingat Spanyol segera meninggalkan Tidore
karena terbentur Perjanjian Tordesillas.
B.
KEBIJAKAN VOC DAN PENGARUHNYA
VOC adalah badan / kongsi perdagangan
Belanda yang berdiri sejak tahun 1602. Sebutan kompeni Belanda yang dialamatkan
pada orang-orang VOC merupakan istilah dari kata Compagnie. Lidah
orang-orang Indonesia menyebut nama compagnie menjadi
kompeni. Ingat, VOC kepanjangan dari Oost
Vereenigde Indische Compagnie.
Salah satu kunci keberhasilan VOC adalah sifatnya yang
mudah beradaptasi dengan kondisi yang telah ada disekitarnya. Kebijakannya
dapat dikatakan kelanjutan atau tiruan dari sistem yang telah dilakukan oleh
para penguasa local. VOC secara cerdik menggunakan lembaga dan aturan-aturan
yang telah ada di dalam masyarakat lokal untuk menjalankan roda compagnienya.
Hak monopoli, penyerahan wajib, penanaman wajib, tenaga kerja wajib dan pajak
sebenarnya telah menjadi bagian dari struktur dan kultur yang telah ada sebelumnya.
Hampir keseluruhan pendapatan VOC diperoleh dari sumber
ekonomi yang juga menjadi andalan para penguasa local sebelumnya. VOC hanya
membungkusnya secara resmi/ legal dan teratur. Staf administrasi dan
prajurit yang berjumlah tidak lebih dari
17.000 orang pada tahun 1700, telah merajalela di sebagian besar pusat-pusat
penghasil dan perdagangan rempah-rempah. Dengan demikian, cukup efektif pihak
VOC untuk menerapkan kebijakan-kebijakan di daerah koloni.
Dalam upaya memperlancar aktivitas organisasi, VOC
pada tahun 1610 memutuskan untuk membentuk jabatan Gubernur Jendral yang pada
waktu itu berkedudukan di Maluku. Pieter Both sebagai orang pertama yang
menduduki posisi itu.
Tindakan VOC dengan adanya hak octroi
sangat merugikan bangsa Indonesia. Hak
octroi seolah ijin usaha kepanjangan tangan pemerintah Belanda, bahkan bisa
dikatakan VOC sebagai sebuah ‘negara dalam negara’.
Pada Perserikatan Maskapai Hindia Timur , VOC ,
kepentingan-kepentingan /para pedagang yang bersaing itu diwakili oleh system
majelis (kamer ) untuk masing-masing dari 6 wilayah di negeri Belanda. Setiap
majelis mempunyai sejumlah direktur yang
telah disetujui, yang seluruhnya berjumlah 17 orang dan disebut sebagai Heeren
XVII ( Tuan-tuan Tujuh Belas ).
Untuk menguasai perdagangan rempah-rempah, VOC
menerapkan hak monopoli, menguasai pelabuhan-pelabuhan penting dan membangun
benteng-benteng. Benteng-benteng yang dibangun VOC adalah :
1. Di Banten disebut
benteng Kota Intan ( Fort Pellwijk ).
2. Di Ambon disebut
benteng Victoria.
3. Di Makasar disebut
benteng Retterdam.
4. Di Ternate di sebut
benteng Orange.
5. Di Banda disebut
benteng Nasao.
Dengan keunggulan senjata, juga memanfaatkan kompetisi
dan konflik di antara penguasa lokal
(kerajaan ), VOC berhasil memonopoli perdagangan pala dan cengkeh di Maluku.
Satu persatu kerajaan-kerajaan di Indonesia dikuasai VOC. Kebijakan ekspansif (menguasai) semakin
gencar diwujudkan ketika Jan Pieterszoon Coen diangkat menjadi Gubernur
Jendral menggantikan Pieter Both pada tahun 1817.
Jan
Pieterszoon Coen
memiliki semboyan “ tidak ada perdagangan tanpa perang, dan juga tidak ada perang tanpa perdagangan”. Ialah
yang memindahkan pos dagang VOC di
Banten dan kantor pusat VOC dari Maluku ke Jayakarta. Mengubah nama
Jayakarta menjadi Batavia.
Dalam upaya mempertahankan monopoli dan melarang
keterlibatan bangsa Barat lainnya maupun para pedagang Asia dalam perdagangan
rempah-rempah di kepulauan Maluku, VOC melakukan intervensi militer ke berbagai
daerah dan pelayaran Hongi ( Hongi Tochten). Pelayaran Hongi
yaitu pelayaran keliling menggunakan perahu jenis kora-kora yang dipersenjatai
untuk mengatasi perdagangan gelap atau penyelundupan rempah-rempah di Maluku.
Pelayaran ini juga disertai Hak Ekstirpasi, yaitu hak untuk
membinasakan tanaman rempah-rempah yang melebihi ketentuan.
Pada tahun 1700 –an, VOC berusaha menguasai
daerah-daerah pedalaman yang banyak menghasilkan barang dagangan. Imperialisme
pedalaman ini sasarannya kerajaan Banten dan Mataram, karena daerah ini banyak
menghasilkan barang-barang komoditas seperti beras, gula merah, jenis-jenis
kacang dan lada.
Tindakan
VOC yang sewenang-wenang, sangat keras, dan kejam menimbulkan perlawanan rakyat
Indonesia. Perlawanan terhadap monopoli VOC terjadi dimana-mana seperti di
Mataram, Banten, Makasar dan Maluku.
Kebijakan-kebijakan VOC selama berkuasa di Indonesia
sejak tahun 1602 – 1799 antara lain dapat dirangkum sebagai berikut :
1.
Menguasai pelabuhan-pelabuhan dan mendirikan benteng untuk melaksanakan
monopoli perdagangan.
2.
Melaksanakan politik devide et impera ( memecah dan menguasai
) dalam rangka untuk menguasai kerajaan-kerajaan
di Indonesia.
3.
Untuk memperkuat kedudukannya dirasa perlu mengangkat seorang pegawai yang
disebut Gubernur Jendral.
4.
Melaksnakan sepenuhnya Hak Octroi yang ditawarkan pemerintah
Belanda.
Prianger Stelsel
( system Priangan , penyerahan wajib) dimulai tahun 1723
Masyarakat di Priangan dikenai aturan wajib kerja
menanam kopi dan menyerahkan hasilnya kepada kompeni. Wajib kerja ini sama
dengan kerja paksa / rodi, rakyat tanpa diberi upah, menderita dan miskin
Pengaruh dari kebijakan VOC bagi rakyat Indonesia
antara lain :
- Kekuasaan raja menjadi berkurang atau bahkan didominasi secara keseluruhan oleh VOC.
- Wilayah kerajaan terpecah-belah dengan melahirkan kerajaan dan penguasa baru dibawah kendali VOC.
- Hak octroi ( istimewa ) VOC, membuat masyarakat Indonesia menjadi miskin, menderita,
mengenal
ekonomi uang, mengenal sistem pertahanan
benteng, etika perjanjian dan
prajurit bersenjata
modern (senjata api, meriam ).
Hak octroi adalah hak istimewa dari
pemerintah Belanda, yang meliputi :
1. Hak monopoli
2. Hak untuk membuat uang
3. Hak untuk mendirikan benteng
4. Hak untuk melaksanakan perjanjian dengan
kerajaan
di
Indonesia
5. Hak untuk membentuk
tentara
4. Pelayaran Hongi, bagi penduduk Maluku khususnya, dapat
dikatakan sebagai suatu
perampasan, perampokan,
pemerkosaan, perbudakan dan pembunuhan.
- Hak Ekstirpasi bagi rakyat merupakan ancaman matinya suatu harapan atau sumber penghasilan yang bisa berlebih.
Dua abad sejarah VOC bercokol di
kepulauan Indonesia, sama sekali tidak mengisaratkan sebagai kesetaraan suatu
mitra baik dalam arti politik maupun ekonomi, melainkan berisi berbagai
peristiwa berdarah dari sebuah upaya menegakkan kekuasaan. VOC menjadi sebuah
kompeni yang bengis, yang mampu membangun sebuah tradisi sebagai symbol
kekuasaan kolonialisme dan imperialisme Barat.
C. KEBIJAKAN PEMERINTAH KERAJAAN
BELANDA DAN PENGARUHNYA
Kebijakan pemerintah kerajaan Belanda
yang dikendalikan oleh Perancis sangat kentara pada masa Gubernur Jendral
Daendels ( 1808 – 1811 ). Kebijakan yang di ambil Daendels sangat berkaitan
dengan tugas utamanya yaitu untuk mempertahankan pulau Jawa dari serangan
pasukan Inggris.
Dalam upaya tersebut, Daendels melakukan
hal-hal sebagai berikut :
1. Membangun
ketentaraan, pendirian tangsi-tangsi/ benteng, pabrik mesiu /senjata di
Semarang dan Surabaya dan juga rumah sakit tentara.
2. Pembuatan jalan pos
dari Anyer di Jawa Barat sampai Panarukan di Jawa Timur panjang sekitar 1000
km.
3. Membangun pelabuhan
di Anyer dan Ujung Kulon dan pembuatan perahu-perahu kecil untuk kepentingan
perang.
Daendels dikenal sebagai Gubernur Jendral “ bertangan besi” karena ia
memerintah dengan menerapkan disiplin tinggi, keras dan kejam. Untuk
mendapatkan dana yang dibutuhkan dalam menghadapi Inggris Daendels
menerapkan beberapa cara :
1. Sistem kerja paksa ( rodi
)
2. Melaksanakan contingenten,
yaitu pajak berupa hasil bumi.
3. Menetapkan verplichte
leverentie, kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada pemerintah
Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.
4. Mewajibkan Prianger
Stelsel, yaitu kewajiban rakyat Priangan untuk menanam kopi.
5. Melepas tanah kepada
pihak asing.
Pada
tahun 1810, kerajaan Belanda di bawah pemerintahan Raja Louis Napoleon
dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte. Negara Belanda dijadikan
wilayah kekuasaan Perancis. Dengan
demikian, wilayah jajahan di Indonesia secara otomatis menjadi wilayah jajahan
Perancis.
Kaisar
Napoleon menganggap bahwa tindakan Daendels sangat otoriter, maka pada
tahun 1811 ia di tarik kembali ke negeri Belanda dan digantikan oleh Gubernur
Jendral Janssens. Ternyata Janssens tidak secakap dan sekuat Daendels
dalam melaksanakan tugasnya. Ketika Inggris menyerang pulau Jawa, ia menyerah
dan harus menanda tangani Perjanjian di Tuntang yang dikenal dengan nama
Kapitulasi Tuntang 1811.
Kebijakan
yang diberlakukan Daendels yang berpengaruh terhadap kehidupan rakyat
antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :
- Sebagai bagian dari perubahan system pemerintahan, Daendels memutuskan agar semua pegawai pemerintah menerima gaji tetap dan mereka dilarang melakukan kegiatan perdagangan.
- Melarang penyewaan desa, kecuali untuk memproduksi gula, garam dan sarang burung.
- Melaksanakan contingenten yaitu pajak dengan penyerahan hasil bumi.
- Menetapkan verplichte leverentie, kewajiban menjual hasil bumi hanya kepada pemerintah Kerajaan Belanda dengan harga yang telah ditetapkan.
- Menerapkan system kerja paksa (Rodi) Membangun ketentaraan dengan melatih orang-orang pribumi.
- Membangun jalan pos dari Anyer sampai Panarukan sebagai dasar pertimbangan pertahanan.
- Membangun pelabuhan-pelabuhan dan membuat kapal perang berukuran kecil.
- Melakukan penjualan tanah rakyat kepada pihak swasta.
9.
Adanya contingenten, verplichte
leverantien dan Prianger
Stelsel
Pengaruh
kebijakan pemerintah kerajaan yang diterapkan oleh Daendels sangat berbekas
dibanding penggantinya, Gubernur Jendral Janssens yang lemah. Langkah-langkah kebijakan Daendels yang
memeras dan menindas rakyat menimbulkan :
1.
Kebencian yang mendalam baik dari kalangan penguasa maupun rakyat.
2.
Munculnya tanah-tanah partikelir yang dikelola oleh pengusaha swasta.
3.
Pertentangan / perlawanan penguasa maupun rakyat.
4.
Kemiskinan dan penderitaan yang berkepanjangan.
5.
Pencopotan Daendels.
Alasan pencopotan Gubernur Jendral Hermann Willem
Daendels adalah :
1. Daendels
menciptakan hubungan yang tidak harmonis antara penguasa local maupun rakyat
setempat, ini akan membahayakan pertahanan terhadap serangan Inggris , bisa
jadi Indonesia akan memihak Inggris.
2. Melakukan
penyimpangan dengan menjual tanah rakyat kepada pihak swasta, seperti kepada
Han Ti Ko, seorang pengusaha China, berarti telah melanggar undang-undang
negara.
BAB III
Perlawanan kolonialisme terhadap Belanda
- Perlawanan rakyat di Indonesia Sebelum Tahun 1800 1. Perlawanan Sultan Baabullah (Ternate) terhadap Portugis 2. Perlawanan Sultan Agung (Mataram) 3. Perlawanan Rakyat Banten terhadap VOC 4. Perlawanan Rakyat Makasar terhadap VOC (1654-1655)
- 1. Perlawanan Sultan Baabullah (Ternate) terhadap Portugis Kedatangan bangsa Portugis di Ternate tahun 1512 berusaha memonopoli perdagangan hal itu menimbulkan kebencian bangsa Ternate. Tahun 1565, rakyat Ternate menyerang benteng Santo Paulo dipimpin Sultan Harun, namun gagal. Setelah itu perlawanan dilanjutkan Sultan Baabullah dan berhasil menguasai Santo Paulo dan Portugis diusir dari Ternate.
- 2. Perlawanan Sultan Agung (Mataram) Sultan Agung mengirim kerajaan Mataram untuk menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1628 merupakan serangan pertama, namun gagal karena kehabisan perbekalan. Serangan kedua (1629) Mataram menyerang VOC di Batavia dan mengalami kegagalan sehingga perlawanan kembali lanjut di bawah pimpinan Trono Joyo kepada Untung Senopati serta perlawanan Mangkubumi dan Raden Mas Said.
- 3. Perlawanan Rakyat Banten terhadap VOC Perlawanan rakyat Banten dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa, namun putranya Sultan Haji bersukutu dengan Belanda, hal ini menyebabkan pihak Belanda dapat ikut campur dalam urusan kerajaan Mataram setelah Sultan Ageng mencopot kekuasaan Sultan Haji, ia meminta bantuan pada VOC untuk menyerang ayahnya. Kerajaan Mataram akhirnya dikuasai oleh Sultan Haji dan dikontrol oleh VOC, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Batavia.
- 4. Perlawanan Rakyat Makassar terhadap VOC (1654-1655) Penyebab terjadinya perlawanan adalah: 1) Belanda menganggap Makassar sebagai pelabuhan gelap 2) Belanda mengadakan blokade ekonomi terhadap Makassar 3) Sultan Hasanuddin menolak monopoli perdagangan Belanda di Makassar VOC mengajukan perjanjian damai dengan Makassar yang dimanfaatkan oleh Belanda untuk memperkuat pasukan,kemudian Belanda bersekutu dengan Aru Palaka (Raja Bone) yang merupakan musuh Sultan Hasanuddin. Belanda akhirnya menguasai Makassar dengan ditandatanganinya perjanjian Bongaya.
- Perlawanan rakyat di Indonesia Sesudah Tahun 1800 1. Perlawanan rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura 2. Perang Paderi (1821-1838) 3. Perang Diponegoro 4. Perlawanan rakyat Bali 5. Perang Aceh
- 1. Perlawanan Rakyat Maluku di bawah pimpinan Pattimura Sejak Belanda berkuasa di Maluku rakyat menjadi sengsara, sehingga rakyat semakin benci, dendam kepada Belanda. Di bawah pimpinan Pattimura (Thomas Matualessi) rakyat Maluku bangkit melawan Belanda tahun 1817 dan berhasil menduduki Benteng Duursted dan membunuh Residen Van Den Berg. Belanda kemudian meminta bantuan ke Batavia, sehingga perlawanan Pattimura dapat dipatahkan, Pattimura kemudian ditangkap dan dijatuhi hukuman gantung pada bulan Desember 1817. Dalam perjuangan rakyat Maluku ini juga terdapat seorang pejuang wanita yang bernama Christina Martha Tiahahu.
- 2. Perang Paderi Pada mulanya Perang Paderi merupakan perang antara kaum adat dan kaum ulama. Penyebabnya: 1) Terdapat perbedaan pendapat kaum ulama dan adat. Kaum ulama mengehendaki pelaksanaan ajaran agama Islam berdasarkan hadist 2) Kaum ulama ingin memberantas kebiasaan buruk yang dilakukan kaum adat, seperti berjudi, menyambung ayam dan mabuk Karena terdesak, kaum adat meminta bantuan kepada Belanda, tetpi kemudian kaum adat sadar bahwa Belanda ingin menguasai Sumatera Barat, kemudian kaum adat bersatu dengan kaum Paderi untuk menghadapi Belanda, karena terdesak, Belanda mengirim bantuan dari pulau Jawa yang diperkuat oleh pasukan Sentot Ali Basa Prawirodirjo.
- Sentot Ali Basa Prawirodirjo ditangkap dan dibuang ke Cianjur karena berpihak kepada kaum Paderi. Dengan siasat Benteng Stelsel, Belanda mengepung dan menangkap Imam Bonjol kemudian dibuang ke Cianjur lalu dipindahkan ke Manado hingga wafat pada tahun 1864.
- 3. Perang Diponegoro (1825-1830) Penyebab terjadinya: Sebab umum: 1) Penderitaan dan kesengsaraan rakyat akibat pajak 2) Campur tangan Belanda dalam urusan istana 3) Munculnya kecemasan di kalangan para ulama karena berkembangnya budaya Barat
- Sebab khusus: Belanda membuat jalan di Tegalrejo yang melewati makam leluhur Diponegoro tanpa meminta izin terlebih dahulu. Dalam perang ini, Diponegoro menggunakan siasat perang gerilya yang didukung oleh kaum bangsawan dan ulama serta bupati, antara lain Kyai Mojo dan Sentot Ali Basa memisahkan diri. Lemahnya pasukan Diponegoro menyebabkan Diponegoro menerima tawaran Belanda untuk berunding di Magelang, dalam perundingan ini pihak Belanda diwakili oleh Jenderal De Kock namun perundingan mengalami kegagalan dan Diponegoro ditangkap dan dibawa ke Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Menado kemudian dipindahkan lagi ke Makassar dan meninggal di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855
- 4. Perlawanan Rakyat Bali Sebab Umum: Adanya Hak Tawan Karang yaitu suatu ketentuan bahwa setiap kapal yang terdampar di perairan Bali menjadi milik raja Bali. Sebab Khusus: Menyangkut tuntutan Belanda yang ditolak raja Bali, berisikan: 1) Hak Tawan Karang dihapuskan 2) Raja harus memberi perlindungan terhadap pedagangpedagang Belanda di Bali 3) Belanda minta diizinkan mengibarkan Bendera di Bali
- Perlawanan rakyat Bali dipimpin Patih Gusti Ketut Jelantik dari Kerajaan Buleleng didukung kerajaan-kerajaan lain di Bali. Dalam pertempuran melawan Belanda, rakyat Bali mengobarkan Perang Puputan dengan pusat pertahanan di Benteng Jagaraga. Karena persenjataan Belanda lengkap, akhirnya Bali berhasil dikuasai Belanda.
- 5. Perang Aceh (1873-1904) Perlawanan dipimpin oleh para bangsawam dan para tokoh ulama seperti Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Panglima Polem, Cut Nyak Dien, Cut Mutia dll. Penyebabnya adalah Belanda melanggar perjanjian Traktat London (1824) yang berisi bahwa Inggris dan Belanda tidak boleh mengganggu kemerdekaan Aceh. Untuk menguasai Aceh, Belanda menggunakan cara: 1) Konsentiasi Stelsel 2) Mendatangkan ahli Agama Islam:Snouch Hurgyonye Cara tsb dapat mempersempit ruang gerak pasukan Aceh, sehingga Aceh akhirnya dapat dikuasai oleh Belanda, kemudian raja-raja di daerah yang berhasil dikuasai diikat dengan Plakat Pendek.
- THE END....................
VOC yang semula hanya
berbentuk sebagai kongsi atau perserikatan dagang, dalam praktiknya
menjelma seperti pemerintah penjajah. Oleh karena itu, di
setiap daerah seperti Mataram, Banten, Ambon, Aceh,
dan Makassar, banyak terjadi perlawanan rakyat terhadap dominasi
VOC tersebut. VOC memberlakukan sistem monopoli
perdagangan dan turut mengatur sistem pemerintahan yang
berlaku. Penjelajahan samudra untuk mencari daerah baru
yang dilakukan oleh bangsa Eropa telah menjadi penjajahan
atau kolonialisme. Kolonialisme adalah keinginan suatu bangsa untuk
menaklukkan bangsa lain dalam bidang politik, ekonomi, eksploitasi
ekonomi, serta penetrasi kebudayaan. Apabila bangsa kolonial itu memiliki
berbagai koloni di daerah lain, dan berupaya menyatakan koloninya itu
menjadi satu sistem usaha, maka usahanya itu dinamakan imperialisme.
Karena telah terjadi
kolonialisme dan imperialisme di tanah air, maka timbullah berbagai bentuk
perlawanan di berbagai daerah. Di bawah ini diuraikan beberapa perlawanan
rakyat
terhadap kolonialisme
yang dilakukan oleh VOC dan Portugis di nusantara.
a. Perlawanan Rakyat
Maluku
Setelah Portugis pada
tahun 1511 berhasil menduduki Malaka, Portugis melanjutkan misi dagangnya
menuju Maluku. Di kepulauan Maluku terdapat Kerajaan Ternate dan
Kerajaan Tidore yang menghasilkan remah-rempah. Portugis
diperbolehkan mendirikan benteng sebagai kantor dagang. Akan tetapi
terjadi penyimpangan, Portugis menjadikan benteng itu sebagai
basis pertahanan untuk menguasai dan menjajah daerah Ternate. Portugis
memaksa Sultan Ternate, yaitu Sultan Hairun untuk menerima
kekuasaan Portugis, dan hanya menjual cengkih dan pala kepada
Portugis. Selain itu, Portugis melarang Sultan Ternate menjul
rempah-rempahnya kepada pedagang lain. Tentu saja sikap seperti
ini sangat ditentang oleh Sultan Hairun. Ketika Sultan Hairun
akan membicarakan masalah perdagangan dengan Portugis ini,
beliau dibunuh secara licik.
Terbunuhnya, Sultan
Hairun jelas memancing kemarahan rakyat Ternate. Sultan Baabullah yang
menggantikan Sultan Hairun bersumpah akan mengusir Portugis dari
Ternate. Untuk itu, Sultan Baabullah mengerahkan tentara dan
segenap kekuatannya mengepung benteng Portugis, hingga
akhirnya Portugis menyerah dan dipaksa meninggalkan Ternate tahun 1575.
Setelah terusir dari Ternate, kemudian Portugis ke Ambon hingga dikalahkan
oleh Belanda pada tahun 1605.
b. Serangan Kerajaan
Demak terhadap Portugis di Malaka
Dikuasainya Malaka pada
tahun 1511 oleh orang-orang Portugis merupakan ancaman tersendiri bagi
Kerajaan Demak. Pada tahun 1512, Kerajaan Demak di bawah pimpinan
Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor) dengan bantuan Kerajaan
Aceh menyerang Portugis di Malaka. Namun, serbuan Demak
tersebut mengalami kegagalan. Penyerangan dilakukan sekali lagi
bersama Aceh dan Kerajaan Johor, tetapi tetap berhasil dipatahkan oleh
Portugis. Perjuangan Kerajaan Demak terhadap orang-orang Portugis tidak
berheti sampai di situ. Kerajaan Demak selalu menyerang dan membinasakan
setiap kapal dagang Portugis yang melewati jalur Laut Jawa. Karena itulah
kapal dagang Portugis yang membawa rempah-rempah dari Maluku
(Ambon) tidak melalui Laut Jawa, tetapi melalui Kalimantan Utara.
Upaya Demak untuk
mengusir Portugis diwujudkan dengan ditaklukkannya Kerajaan Pajajaran
oleh Fatahilah pada tahun 1527. Penaklukkan Pajajaran ini
disebabkan Kerajaan Pajajaran mengadakan perjanjian perdagangan
dengan Portugis, sehingga Portugis diperbolehkan mendirikan
benteng di Sunda Kelapa. Ketika orang-orang Portugis mendatangi Sunda
Kelapa (sekarang Jakarta), terjadilah perang antara Kerajaan Demak di
bawah pimpinan Fatahilah dengan tentara Portugis. Dalam peperangan itu,
orang-orang Portugis berhasil dipukul mundur. Kemudian, pelabuhan Sunda
Kelapa diganti namanya oleh Fatahilah menjadi Jayakarta yang berarti kejayaan yang sempurna.
Meskipun Kerajaan Demak
berhasil membendung masuknya pengaruh Portugis di Jawa Barat, tetapi gagal
ketika mencegah hubungan dagang antara Portugis dengan
kerajaan-kerajaan Hindu di daerah Jawa Timur. Bahkan Sultan Trenggono dari tahun
1521 sampai dengan tahun 1546 yang memimpin langsung penyerangan itu gugur
di Pasuruan, Jawa Timur.
c. Serangan Kerajaan
Aceh terhadap Portugis
Sejak kedatangan orang
Portugis di Malaka pada tahun 1511, telah terjadi persaingan yang
berbuntut permusuhan antara Portugis dan Kesultanan Aceh. Sultan Aceh
pada waktu itu diperintah oleh Sultan Ali Mughayat Syah (1514- 1528),
menganggap bahwa orang Portugis merupakan saingan dalam politik, ekonomi,
dan penyebaran agama. Untuk itulah, Kesultanan Aceh tetap pada
pendiriannya, bahwa Portugis harus segera diusir dari Malaka. Itulah
sebabnya, ketika terjadi penyerangan Kerajaan Demak ke Malaka, Aceh
membantunya dengan sekuat tenaga.
Sejak Kesultanan Aceh
diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), perjuangan
mengusir Portugis
mencapai puncaknya. Untuk mencapai tujuannya, Sultan Iskandar Muda
menempuh beberapa cara untuk melumpuhkan kekuatan Portugis,
seperti blokade perdagangan. Sultan Aceh melarang daerah-daerah
yang dikuasai Aceh menjual lada dan timah kepada Portugis. Cara ini
dimaksudkan agar kekuatan Portugis benar-benar lumpuh, karena tidak
memiliki barang yang harus dijual di Eropa. Upaya ini ternyata tidak
berhasil sepenuhnya, sebab raja-raja kecil yang merasa membutuhkan uang
secara sembunyi-sembunyi menjual barang dagangannya kepada
Portugis. Gagal dengan taktik blokade ekonomi, Sultan Iskandar Muda
menyerang kedudukan Portugis di Malaka pada tahun 1629. Seluruh kekuatan
tentara Aceh dikerahkan. Namun, upayaitu mengalami kegagalan. Pasukan
Kesultanan Aceh dapat
di pukul mundur oleh pasukan Portugis
BAB
IV
Pengaruhnya
terhadap politik, sosial dan budaya masyarakat Indonesia
Kebijakan
politik-ekonomi pemerintah kolonial, seperti penjualan tanah partikelir, sistem
pengumutan pajak tanah, sistem tanam paksa, dan adanya undang-undang angraria
tahun 1870 telah memberi pengaruh didalam masyarakat Indonesia, pengaruh
kebijakan kolonial terhadap masyarakat Indpnesia tampak dalam hal:
1. Bidang
Ekonomi
a. Tingkat
kesejahteraan masyarakat Indonesia dipulau jawa menurun, sehingga laju
pertumbuhan penduduk menurun juga.
b. Rakyat
sangat tertekan dengan pemberlakuan sistem perpajakan yang memberatkan.
c. Banyak
rakyat yang kehilangan tanahnya lantas menjadi para buruh dengan upah kerja
yang rendah.
2. Bidang
Sosial
a. Pendidikan
bagi penduduk Indonesia mulai mengalami perkembangan yang pesat seiring dengan
munculnya keutuhan para petugas administrasi Belanda dan para tuan tanah
partikelir.
b. Masyarakat
tersusun kedalam tiga lapisan, yaitu penjabat-penjabat birokrasi kerajaan, kaum
tuan tanah, dan rakyat lapisan bawah.
3. Bidang
Politik
Kekuasaan tradisional bumi putera
semakin melemah sebagai akibat adanya intervensi pemerintah Benlanda terhadap
persoalan-persoalan intern seperti: penggantian tahta kerajaan, pengangkat
pejabat-pejabat kerajaan dan penentuan kebijakan politik kerajaan.
4. Bidang
Budaya
a. Makin
meluasnya pengaruh budaya-budaya Eropa yang merusak sendi-sendi kehidupan
budaya tradisional misalnya: kebiasaan minum-minuman keras dikalangan
bangsawan.
b. Munculnya
keberanian para pemimpin agama untuk menentang pemerintahan Belanda dan para
bangsawan serta pejabat-pejabat yang merusak tatanan kehidupan tradisional yang
agamis.
DAFTAR PUSTAKA
Badrika, Wayan . 2000. Sejarah Nasional
Indonesia dan Umum 2, Jakarta: Penerbit Erlangga
Depdiknas. 2005. Materi Pelatihan Terintegrasi
IPS Sejarah. Jakarta: Direktorat PLP.
Edi S. Ekajati, Drs., 1985. Fatahillah
Pahlawan Arif Bijaksana. Jakarta: PT Mutiara Sumber Widya.
KS, Tugiyono, Sutrisno Kutoyo, Alex Pelatta. 1984. Atlas
dan Lukisan Sejarah Nasional Indonesia. Jakarta : CV Baru
Kutoyo, Sutrisno, dkk. 1986. Sejarah Ekspedisi
Pasukan Sultan Agung ke Batavia. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Latif, Drs. Chalid dan Drs. Irwin Lay. 1997. Atlas
Sejarah Indonesia dan Dunia. Jakart: PT Pembina Peraga.
Marwati Djoenet P. & Nugroho Noto Susanto. 1993.
Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.
MD, Sagimun, 1985. Sultan Hasanudin Menentang
V.O.C. Jakarta : Departemen
Pendidikan dan Lebudayaan.
Nanulaita, IO. 1985. Kapitan Patimura.
Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Ricklefs, M.C., 2005. A History of Modern
Indonesia Since c. 1200. alih
bahasa Satrio
Wahono dkk. Sejarah Indonesia Modern 1200 – 2004, Jakarta : PT Serambi
Ilmu Semesta.
Satia, Meta Candra. 1985. Sultan Baab
Ullah Pengusir Portugis dari Maluku, Jakarta : C.V.

ltar blkang gk nymbung
BalasHapusga salah kah latar belakang nya?
BalasHapusGambling 101 | Dr. MGM National Harbor
BalasHapus› 안산 출장안마 gambling › 101-gambling › wiki-gambling › gambling › 101-gambling › wiki-gambling For a general understanding of gambling, it is not 경주 출장안마 the 성남 출장안마 most common type of gambling problem 경상남도 출장안마 you'll encounter at MGM National 의왕 출장안마 Harbor.